Basashi: Kelezatan Kontroversial Sashimi Kuda dari Jepang
Jepang, dengan warisan kuliner yang kaya dan beragam, terus mempesona dunia dengan hidangan-hidangan inovatif dan uniknya. Di antara banyaknya hidangan tradisional dan modern, ada satu hidangan yang menonjol karena keberaniannya dan daya tariknya yang tak terduga: Basashi, atau sashimi kuda. Hidangan ini, yang terdiri dari irisan daging kuda mentah yang disajikan dengan berbagai bumbu dan saus, telah menjadi makanan pokok di beberapa wilayah di Jepang, khususnya di Prefektur Kumamoto di Kyushu. Namun, kelezatan ini juga dikelilingi oleh kontroversi dan skeptisisme, terutama dari mereka yang tidak terbiasa dengan konsumsi daging kuda.
Sejarah dan Asal Usul
Sejarah Basashi dapat ditelusuri kembali ke zaman feodal Jepang, khususnya selama periode Sengoku (abad ke-15 hingga ke-17). Pada masa perang saudara yang terus-menerus dan kekurangan makanan, daging kuda menjadi sumber protein yang berharga bagi para prajurit dan bangsawan. Kuda, yang dulunya digunakan untuk pertempuran dan transportasi, sering kali dikonsumsi setelah mati dalam pertempuran atau karena usia tua. Namun, alih-alih membuang dagingnya, orang-orang Jepang yang inventif menemukan cara untuk mengawetkan dan menikmatinya mentah, sehingga lahirlah Basashi.
Prefektur Kumamoto, yang terletak di Pulau Kyushu, menjadi pusat produksi dan konsumsi Basashi. Wilayah ini memiliki sejarah panjang beternak kuda, dan iklim serta kondisi geografisnya yang unik sangat cocok untuk memelihara kuda berkualitas tinggi. Seiring waktu, peternak Kumamoto mengembangkan teknik khusus untuk memelihara kuda khusus untuk dikonsumsi, memastikan bahwa dagingnya lembut, beraroma, dan aman untuk dimakan mentah.
Persiapan dan Penyajian
Persiapan Basashi membutuhkan keahlian dan ketelitian yang tinggi untuk memastikan keamanan dan kualitas hidangan. Kuda yang digunakan untuk Basashi biasanya dibiakkan di lingkungan yang terkontrol dan diberi diet khusus untuk meningkatkan rasa dan tekstur dagingnya. Setelah disembelih, dagingnya diperiksa dengan cermat untuk memastikan kesegarannya dan bebas dari parasit atau penyakit apa pun.
Bagian daging yang paling umum digunakan untuk Basashi adalah sirloin, pinggang, dan dada. Dagingnya diiris tipis-tipis, menyerupai sashimi ikan, dan disajikan di atas piring dengan berbagai bumbu dan saus. Bumbu yang paling umum termasuk jahe parut, bawang putih, daun bawang, dan shiso (mint Jepang). Sausnya biasanya merupakan campuran kecap, sake, dan mirin (anggur beras manis).
Salah satu ciri khas Basashi adalah warnanya yang cerah, merah tua, yang disebabkan oleh tingginya kadar zat besi dalam daging kuda. Dagingnya juga terkenal karena teksturnya yang lembut dan rasa yang sedikit manis, yang sering dibandingkan dengan daging sapi atau rusa.
Variasi dan Rasa
Basashi hadir dalam berbagai variasi, masing-masing menawarkan pengalaman rasa dan tekstur yang unik. Beberapa jenis Basashi yang paling populer meliputi:
- Akami: Ini adalah potongan daging tanpa lemak dari sirloin atau pinggang. Akami memiliki rasa yang kaya dan beraroma dengan tekstur yang sedikit kenyal.
- Torot: Potongan berlemak dari perut atau dada. Torot meleleh di mulut Anda, menawarkan rasa mentega dan lembut yang kaya.
- Futoé: Kombinasi akami dan torot. Futoé memberikan keseimbangan rasa dan tekstur, menjadikannya pilihan populer bagi mereka yang baru mengenal Basashi.
- Kouzushi: Daging kuda yang diawetkan yang diasinkan dalam campuran kecap, sake, dan rempah-rempah. Kouzushi memiliki rasa yang gurih dan manis dengan tekstur yang kenyal.
- レバ刺し (Rebasashi): Hati kuda mentah. Rebasashi memiliki rasa yang kaya dan beraroma dengan tekstur lembut dan lembut.
Selain variasi ini, Basashi juga dapat dinikmati dengan berbagai bumbu dan saus, tergantung pada preferensi pribadi. Beberapa kombinasi populer termasuk:
- Basashi dengan jahe parut dan kecap
- Basashi dengan bawang putih dan minyak wijen
- Basashi dengan daun bawang dan ponzu (saus jeruk)
- Basashi dengan wasabi dan kecap
Kontroversi dan Keamanan
Meskipun Basashi adalah hidangan lezat yang dinikmati oleh banyak orang di Jepang, itu juga dikelilingi oleh kontroversi dan masalah keamanan. Kekhawatiran utama adalah risiko kontaminasi bakteri dan parasit.
Daging kuda, seperti semua daging mentah, dapat mengandung bakteri berbahaya seperti Salmonella, E. coli, dan Listeria. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan, dengan gejala mulai dari mual dan muntah hingga diare dan demam. Selain itu, daging kuda dapat mengandung parasit seperti Trichinella spiralis, yang dapat menyebabkan trikinosis, penyakit yang dapat menyebabkan nyeri otot, demam, dan kelelahan.
Untuk meminimalkan risiko ini, sangat penting untuk hanya mengonsumsi Basashi dari sumber yang terpercaya dan terkemuka. Peternak dan pemasok Jepang yang terpercaya mematuhi standar keamanan yang ketat untuk memastikan bahwa kuda dipelihara di lingkungan yang bersih dan sehat dan dagingnya diproses dengan benar. Selain itu, daging harus disimpan dan disajikan pada suhu yang tepat untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
Selain itu, penting untuk dicatat bahwa Basashi dilarang di beberapa negara karena masalah keamanan dan kesejahteraan hewan. Di Amerika Serikat, misalnya, penjualan dan konsumsi daging kuda ilegal di sebagian besar negara bagian.
Budaya dan Signifikansi
Terlepas dari kontroversi dan masalah keamanan, Basashi tetap menjadi hidangan populer dan penting secara budaya di Jepang, khususnya di Prefektur Kumamoto. Hidangan ini sering dinikmati pada acara-acara khusus dan perayaan, dan dianggap sebagai hidangan lezat dan mewah.
Basashi juga merupakan simbol dari warisan kuliner Kumamoto dan komitmen wilayah tersebut terhadap kualitas dan inovasi. Peternak dan koki Kumamoto telah menyempurnakan seni menyiapkan Basashi selama berabad-abad, dan mereka terus berupaya untuk meningkatkan rasa dan keamanan hidangan tersebut.
Kesimpulan
Basashi adalah hidangan unik dan kontroversial yang menawarkan sekilas tentang warisan kuliner dan budaya Jepang yang kaya. Meskipun mungkin tidak untuk semua orang, mereka yang cukup berani untuk mencobanya akan dihargai dengan pengalaman rasa yang tak terlupakan. Namun, penting untuk mengonsumsi Basashi dari sumber yang terpercaya dan menyadari potensi risiko kesehatan yang terkait dengan makan daging mentah. Dengan kehati-hatian dan penghargaan yang tepat, Basashi dapat dinikmati sebagai kelezatan yang benar-benar istimewa.











